Selasa, 24 April 2012

Biraswandana

Sekelebat guratan jingga terlihat jelas mencolok mata, namun ketakutan pada malam itu tak akan mudah hilang dari ingatan. Mereka seenaknya saja menyombongkan diri dengan kemampuan yang sungguh tak bisa dibuktikan. Bukan lagi tentang kota tua yang ditinggalkan penghuninya namun lebih kepada isyarat makna yang ia membekas disana.
    Markui tahu bahwa mereka hanya menginginkan kepingan harta yang terkubur di perut bumi kampung kami. Tapi mengapa ia dengan sengaja menghancurkan demi seorang yang ia anggap mencintainya. Gelap memang kehidupan orang-orang disana. Bergelimangan harta tanpa makna.
Ah, apa peduliku dengan kehidupan para penjual negara. Hatiku kini sedang kalut tak terkira. Aku hanya ingin diam, tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya aku inginkan.
Dua malam sudah aku rasa tak ada aliran air masuk kerongkongan, tak apa. Sungguh aku hanya ingin sendiri terduduk dikamar hitam yang sepi. Memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah tak ada lagi jalan keluarnya.
Ibu sudah berulang-ulang mengetuk pintu dan terdengar terisak dekat jendela. Saking kalutnya hatiku tak mampu meraba kebersihan hati orang yang selama sembilan bulan memeluk ragaku. Kegaduhan-demi kegaduhan terdengar di kamar tamu, ruang makan, ataupun dapur yang persis menempel di dinding ruanganku. Aku sungguh tak lagi peduli. Hatiku telah mati. Telah mati tergores ranting-ranting patah di sudut kota. Terbawa angin yang menyesakkan dada.
Dua kali duapuluh empat jam ini pula aku tak berniat untuk melanjutkan hidup. Namun mati bukan tidak aku usahakan. Segala cara, namun hanya meninggalkan bekas luka di pergelangan dan leher yang lecet saja.
Aku ingin izroil segera datang menyapa. Mencaput nyawa dengan paksa, kesakitan luar biasapun tak mengapa. Aku siap menerima.
Kejadian itu, kejadian saat fajar belum menampakkan diri. Ketika suara sandalku bergesekan dengan aspal kota tua setelah bernegosiasi alot dengan para tetua pongah yang serakah. Aku merasa gagal menyelamatkan butiran emas hitam kampungnya. Aku tak bermaknaapapun. Tak ada guna terus menghirup nafas. Biarkan. Biarkan saja...
Tawa mereka yang ada di dalam struktur birokrasi, entah mengapa terasa bagai silet yang mengiris-ngiris jantungku. Aku tak tahu Markiu sekarang ada dimana. Jika di neraka sana aku bertemu dengannya akan kupastikan ia mencium kakiku. Karena gara-gara dia. Karenanya.
 ***
    Sesaat sebelum pergi ke kota tua yang tak lagi dihuni manusia-manusia bernurani, aku sengaja mampir ke rumah pamanku di Nesara, ketika itu kulihat ia memalingkan muka ketika hendak kuucapkan doa dan salam kasih dari ibu yang sudah lama tak mengunjunginya.
    “Saya harap paman tak berada disana.” Kataku dengan suara parau.
    “Kau hanya anak bawang Durpani.” Katanya mungkret.
Ya akan selalu begitu aku rasa. Ketika rimbunna daun taman kota melaju terus dengan deru mesin-mesin tua yang akan berganti dengan alat-alat lain yang lebih besar, canggih, dan merusak buatan mereka kelak.
    Aku tak henti berpikir bagaimana jika paman menggahadangku bertemu dengannya nanti, bagaimana jika semua orang tahu bahwa aku masih ada ikatan darah dengannya. Berseteru melalui luka yang berbeda jalannya dengan orang yang sejak kecil mencintai kita. Kalian tidak akan mampu merasakannya.
    Tekadku sudah bulat akan aku jajal jalanan berliku itu, walaupun dengan banyak resiko. Hingga ku tahu jalanku tak pernah diketahui olehnya.
    Keheningan menyeruak di depan mata ketika memasuki kota. Suasana masing remang tatkala itu, karena perjalanna panjang yang hana aku tempuh dengan berjalan kaki sehingga baru sampai disini ketika metari membuka suasana. Aspal tua yang gelap seperti melarangku untuk berjibaku di kota itu. Namun aku jelas tak mungkin melakukannnya. Aku ingin segera sampai ke dalam gedung paling tua di kota tua, bertemu dengan orang-orang tua dengan otak yang sangat tua.
Tak berapa lama, akhirnya kulihat semburat cahaya dari lantai tiga yang berarti ruangan itu sudah ada penghuninya. Kunaiki tangga yang rapuh dengan hati yang apabila boleh jujur sangat gontai tapi jangan berhenti disini, harus melangkah lagi dan lagi. Dipersimpangan lorong kedua aku temukan Markiu, ia tersenyum sinis ke arahku, tapi apa peduliku dengan senyumannya. Bukankah aku sudah tau dalamnya hati lelaki ringkih itu.
Selain dengannya aku pun berpapasan dengan Gika, Renia, Kalima, Seno, dan Poda. Mereka memberi hormat, menyapa, tapi aku biarkan saja. Hatiku sungguh sedang tak bersahabat. Otakku pun tak akan mengirimkan signal hanya untuk menganggukan tubuh sis-sia.
Aku masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu atau mengatakan bahwa kau telah tiba. Aku seoorang gadis yang akan menang pikirku. Sialnya mereka malah menyambut dengan tepuk tangan yang bergemuruh bak sedang melihat pemeran utama di panggung opera. Baik akan kutunjukkan siapa diriku.
Sendiri melawan puluhan orang dengan keserakahan dipuncak ubun-ubun memang tak mudah, tapi kekuatan hatiku tak mudah dilemahkan begitu saja. Aku siap walau harus terlempar ke Antariksa asalkan aku dapat mempertahankannya.
Ocehan-demi ocehan meracau begitu saja. Begitupun mereka, mukaku merah padam, mereka tertawa terbahak-bahak. Oke, nampaknya mereka merasa diatas angin. Aku masih punya kekuatan Rodio belum datang, aku kan melihat sejauh mana kebeeraniannya menghantarkanku ke kotanya.
Nogosiasi yang jelas tak sebanding sempat terhenti ketika Rodio datang. Aku tersenyum memancarkan kemenangan. Setelah menguatkan hati, Rodio menembakan ucapan-ucapan yang jelas membuat tawa mereka berubah menjadi getaran udara yang hampa. Aku sudah mengiri Rodio akan menyelamatkanku, membantuku walaupun aku tahu ini akan menyakitinya sendiri, karena ayahnya bagian dari mereka begitu pula dengan pamanku yang tak henti-hentinya mengujami kami dengan kata-kata neraka.
Berusaha saling menguatkan walaupun akhirnya aku harus lagi menahan perih ketika tiba-tiba puluhan peluru berhahaya dimuntahkan oleh salah seorang dari mereka. Aku yang mejadi sasarannya tapi rodio membentenginya.
“Pergi sekarang, temui Biraswandana! KATAKAN KITA AKAN MEMELUK BUMINYA.”
Katanya sebelum tubuhnya ambruk tak kuat menahan hujaman peluru.
Aku lari secepatnya, dengan hati lemah dan sandal jepit yang hampir terlepas. Aku tak tak ingin perjuangan ini berakhir. Tapi gelapnya malam ini tak mampu membuatku bangkit dan menantang keangkuhan mereka. Aku pergi, melewati jalanna tua tanpa penghuni.
Diseretnya langkah kaki yang sunyi, dengan bayangan wajah Rodio penuh darah. Mengapa ada manusia yang tega berbuat seperti itu pada pejuang sepertinya. Membawa luka dan harapan Rodio aku tak langsung menemui Ibu. Aku ingin ke kampungnya melihat keadaannya. Aku tak bisa mempertahankannya. Namun kakiku tersangkut ranting di perkebunan karet yang lebat. Aku tak sadar tenyata darah Rodio tadi menempel di betis kiriku. Ketika kulihat mata kaki kananku luka, mungkin ini yang membuatku tak bisa berjalan lagi. Mata kakiku berdarah. Aku berteriak sekencang-kencangnya.
 ***
Maafkan aku, kecintaanmu pada Raja Nande harus musnah, gara-gara aku yang sungguh tak bermakna. Aku tulis ini untukmu. Biraswandana....

Sabtu, 14 April 2012

JANG., ^^


Jang
Hirup teh teu gampang
Teu cukup ku dipikiran
Bari kudu dilakonan
Jang
Jalan kahirupan
Heunteu sapanjang na datar
Aya mudun jeung tanjakan

Kudu sabar dina kurang
Ulah neupak dada beunghar
Salawasna kudu syukur
Eling ka nu Maha Agung
Kade hidep bisi kufur

Jang
Cing jadi jalma hade
Cing jadi jelema gede
Beunghar harta jeumar hate
Jang
Hidep cing ngajalma
Turut parentah agama
Ulah jauh ti ulama

Nyobat sareng ahli tobat
Dalit sareng para kiyai
Hirup keuna ku owah gingsir
Ngarah aya anu ngageuing
Mangsa lengkah ninggang salah

Cing pinter tur bener
Cing jujur ton bohong
Ulah nganyeurikeun batur
Ngarah hirup loba dulur

Raksa ucap langkah
Tekad jeung tabe'at
Ngarah pinanggih bagja
Salamet dunia akherat

Jang..
Jang…
Cing jadi jalma sholeh
Jang…. Jang…
Hidep cing sholeh

Minggu, 08 April 2012

Disumpahi Jabatan Karya Taufik Ismail


Burung tekukur menyampaikan bunyi
Yang bagaimana manafsirkannya
Bila bergesekan dengan semak ilalang di ujung halaman
Yang tumbuh liar, mempermainkan cahaya
Di beranda pendopo rumah seorang pensiunan
Lihat dia sedang menghitung perimbangan
Huruf hidup dan huruf mati, dalam ucapan
Sementara anak-anaknya mengikat gugusan kata benda
Di atas meja ukir kayu jati marmar bundar bentuknya

“Sesudah ibu kalian tak ada,” kata
Lelaki yang lumpuh kiri itu seraya
Memainkan tangkai rem kursi roda
“Sesalku seperti bayang-bayang tak habis mengejar
Matahari lepas waktu asar
Imaji yang goyang bergoyang secara gaib
Matahari tergelincir masuk magrib
Kursi roda ayah menggulir ke timur mata angin
Pedalaman penuh kabut dan angin dingin…”

Dia menatap anak-anaknya di sekitar meja marmar
Semua siap dengan tameng penangkis huru-hara
Garis-garis fana mencuat dari lampu gantung tua
Berkas guratan yang diikhtiarkannya bulat sempurna

“Sesalku bagai geraham berbisul di distal kiri
Dengan elemen nyeri tak tercantum di senarai patologi
Seraya melepasku memenuhi panggilan bandar udara
Terimalah tembakan mitraliur pengakuan ayahmu ini
Testamenku dulu kubatalkan sama sekali.”

Ke sekitar meja marmar dia melayangkan mata
Semua anak menaikkan tameng penangkis huru-hara
Menutup pandangan agar tembakan tak terkena

“Ayah tak tahan dikejar bayangan ibu kalian
Tentang kebersihan rezeki debat berkepanjangan
Sejak masih hidup, sampai jadi ruh sudah tiga bulan
Dari dulu mamamu tak habis mempertanyakan
Setiap habis mengurus sertifikat atau bentuk usaha apa
Atau ekaun di bank yang menggelembung tiba-tiba
Kami selalu bertengkar diam-diam tapi runcing dan tajam
Kamu semua tak tahu orangtuamu lama terancam perceraian
Tapi selalu mengalami penundaan demi penundaan
Sungguh semua itu sandiwara nyaris sempurna
Menunggu dulu anak-anak selesai sekolah
Lalu menunggu anak-anak selesai kuliah
Kemudian menanti anak-anak satu-satu menikah
Lalu menunggu datangnya cucu-cucu
Yang ternyata setiap satu lucu-lucu
Sementara itu karir ayah melesat maju
Eselon demi eselon, jabatan dami jabatan
Lalu meja kerja yang masuk dalam fokus tembakan
Di kabinet, sebuah kursi jati ukiran, seperti sudah disiapkan
Kalian jangan terkejut ibumu apa kalian kira gembira
Jangankan sujud syukur, dia malah istigfar tiga kali
Mas, kata ibumu, aku khawatir jangan-jangan kamu nanti
Disumpahi jabatan.”

Ke sekitar meja marmar dia melayangkan mata
Semua anak menurunkan tameng penangkis huru-hara
Membuka pandangan menatap mata ayah mereka

“Kata ibu kalian, keluarga kita sudah terlampau kaya
Sebagai pegawai negeri, sangat menyolok mata
Walaupun ditutup-tutupi ketahuan senantiasa
Ketika bermuka-muka tentu orang enggan bicara
Waktu itu pada ibumu ayah marah luar biasa
Isah, jangan itu diulang juga, ayah berkata
Di semua eselon kawan-kawanku berbuat serupa
Yang lebih menyolok lagi banyak pula
Tetapi ibumu membantah tetap berani saja
Cuma di depan anak-anak kami seperti tak ada apa-apa
Tapi di dalam kalbuku pergolakan luar biasa
Kemudian ibu kalian meninggal tiba-tiba.”

Burung tekukur kini berbunyi-bunyi lagi
Pesan apa dari pohon sawo dan semak ilalang ini
Keletak kuda andong dan bel beca yang aneh sunyi

“Testamen ayah dua tahun lalu, kini kubatalkan total
Rumah di Kemang, Bintaro, Blok M, Tanah Sareal
Jalan Den Pasar, Warung Buncit, Menteng dan Kuningan
Usaha pom bensin, apotik, bengkel mobil dan percetakan
Angkutan antar pulau, helikopter berikut konsesi hutan
Jasa asuransi, rumah produksi lalu studio rekaman
Ruko, rental video, kios internet yang disewa-sewakan
Pabrik kosmetik, jamu tradisional serta biro konsultan
Tanah di Pluit, Karawaci, Bogor Baru dan Batam
Deposito di Jakarta, Singapura dan Amsterdam
Delapan atau sembilan perusahaan berbentuk saham
Apartemen di Johor Bahru, San Francisco dan Boston
Yang semuanya akan kalian terima sebagai warisan
Kini aku batalkan secara keseluruhan
Dan penjualan itu semua disegerakan
Sekitar satu triliyun dalam taksiran penjumlahan
Lalu pikirkan cara kepada bangsa dikembalikan
Dan jangan satu rupiah pun singgah ke tangan kalian.”

Burung tekukur, sepasang, mengirimkan bunyi
Hinggap pada cakrawala suara tanpa bayang-bayang
Pesan apa dalam panorama ketika ditanyakan makna

“Kini berikutnya inilah yang ayah risaukan
Tentang asal usul pembiayaan pendidikan kalian
Bertujuh anak bertahun-tahun dikirimkan
Ke Pantai Barat, Pantai Timur, Texas dan Michigan
Ibumu dulu sebenarnya tak setuju modus begini
Karena terdedahnya nampak jadi menyolok sekali
Kalian memegang kartu kredit emas bahkan nyetir Ferrari
Demikianlah kalian dapat S-1, S-2 sampai Pi-Eic-Di
Semua berasal dari dana taktis, hasil Komisi dan Upeti
Sangat jelas tak mungkin berasal dari struktur gaji
Ayah sebenarnya lebih memajukan kepentingan diri sendiri
Rahasia negara bagi ayah kecil tak berarti
Selama itu bisa terhadap mata uang dikonversi
Rakyat pun hanya kata benda dalam kalimat melengkapi
Ayah menerima kickback dengan mata tertutup kanan dan kiri
Dari para pemasok proyek bertimbun-timbun hadiah dan upeti
Ayah bekerja tidak jujur tapi berhasil mengkreasi imaji
Citra pekerja keras, lugu dan populis sejati
Tapi di muka ibumu ayah tak bisa berpretensi
Dan ibumu tak bangga kalian sekolah di luar negeri
Dan untuk membersihkan kekotoran rezeki ini
Ayah tak mungkin mengembalikan dengan bekerja lagi
Ayah minta ampun dengan istigfar Nabi Yunus beribu kali
Semoga ayah terlempar ke luar dari sumur dalam segelap ini…”

Ketika semua anak-anak menitikan air mata mereka
Mendengar pengakuan sang ayah yang begitu terbuka
Aib keluarga yang disimpan sudah demikian lama
Kini sunyi penuh tensi diisi cahaya datang dari mana
Berbunyilah burung tekukur mungkin dengan  makna
Sang ayah capek bicara, terkulai di sandaran kursi roda
Ketika itulah Maut pelahan melayang membawa nyawanya.

1998

Selasa, 03 April 2012

Pohon Tanpa Akar

HAMPARAN TANAH YANG BERANTAKAN. DUA SOSOK MAYAT BERSANDAR DI GUNDUKAN BEBATUAN. SUARA-SUARA KEMATIAN BERHAMBURAN DARI SEGALA  ARAH.
 
Sejarah negeri ini selalu mencatat orang-orang yang berani mempertahankan hak miliknya sebagai pahlawan.
Keberanian itulah yang hendak aku tunjukkan pada dunia.
Apakah kalian akan meninggalkan tempat ini kaarena milik kalian telah hilang?
Apakah kalian menyerah hanya karena suara-suara  dan bayangan yang tidak nyata itu? Jawab…
Nah, itu, ketakutan itulah yang membuat kalian kalah. Aku akan tetap di sini. Akan aku rebut kembali segala milikku yang dirampas olehnya. Kalau kalian mau pergi, pergilah…
 
SEORANG LELAKI MENGGUNAKAN TONGKAT DENGAN MENYANDANG SENJATA TERTATIH MENUJU HAMPARAN TANAH KOSONG. IA MENAHAN SAKIT YANG DALAM.
 
Terserah kalian menyebut aku gila.Tanah ini adalah nafasku. Negeri ini adalah darahku.Siapa (TERTAWA). Kalaupun dia datang lagi akan aku peluk dengan dadaku yang terbuka.
Oh…tidak.tidak!!!
Kalian bukan pajurit-prajuritku lagi, bukan orang-orang kepercayaanku lagi.
Pergi kalian.Pergi.Pergi!!!
Pergi!!!Pengecut!Pecundang!Penghianat!pergi!pergi!!!
HENING SEJENAK.
Akulah lelaki yang kehilangan.
Belum sempat aku menimang matahri yang beru keluar dari rahimmu.Belum sempat tunjukkan keringat kita yang berubah menjadi emas kepadanya,kasihku.
TERTAWA GETIR,TANPA SUARA.
Pagi yang seharusnya menyejukkan jiwa , tapi gerhana malah menebar luka . Kegelapan menutupi jalan . Tanah kita meleleh. Kita tidak bisa maju. Kita terpaksa mundur ke masa lalu.
Jabatan yang aku raih, lenyap.
Kekayaan yang bertahun-tahun aku kumpulkan,musnah.
Dan rumah megah ini kini tinggal harapan kosong.
Air mataku habis.Semuanya habis.
Yang tersisa tinggal cintaku,sayang.
MENANGIS
Sujud bagaimana lagi yang belum aku persembahkan padaMu, Tuhan?
Kenapa kematian begitu kejamnya menghancurkan surga kami?
DUDUK DI SAMPING MAYAT.
Ketidakadilan ini tidak akan aku biarkan menenggelamkan  tanah kita.
MEMAPAH KAKINYA YANG PAPAH.
Auh…Auh…Auh …Keparat!!!
Lebih baik aku terluka karena peluru musuh daripada menahan penderitaan ini.
TATAPANNYA NYALANG MENYIMPAN DENDAM.
 
Maut.Dimana pun kau bersembunyi, aku pasti menemukanmu.
 
TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA-SUARA KEMATIAN. MAGIS. BERGELOMBANG. MENYAYAT SELURUH SEL-SEL TUBUH.
 
Suara itu lagi.Oh…begitu indah dan menggairahkan.
TERTAWA GETIR
 
SUARA-SUARA KEMATIAN ITU MAKIN BERGEMURH.
SAMBIL MENIMANG-NIMANG SEJATANYA, LELAKI  ITU MENYATU DENGAN SUARA-SUARA KEMATIAN.
 
Berhenti! Berhenti! Berhenti!!! Auh…auh…auh…
Lihat, sayang.Lihat !Mereka  mematuhiku.TERTAWA.
Ternyata masih ada masa depan.Apa?Oh…dingin,ya.
MENUTUPI TUBUH MAYAT DENGAN SELIMUT.
Sejak Peristiwa itu, angin tak tahu arah.
Sekarang, angin lebih suka mencekik leher daripada menebar benih. Ha…minta peluk. Belum saatnya.Dia terus mengintai setiap langkah kita.
Oh… bukan itu masalahnya. Kecantikanmu itu abadi. Bagaimana ?Ya,pasti. Pasti aku belikan kalung mutiara itu. Lehermu yang jenjang akan semakin berkemilau . Itu janjiku. Janji lelaki yang tak pernah mati. Namun, aku harus mengambil takdir kita yang dirampas.Setelah itu kita bangun rumah megah. Iya… Iya… Percayalah denganku, sayang. Masa depan kita tidak akan hancur. Yakinlah!
Bagaimna? Oh…jelas. Mana mungkin anak kita aku biarkan jadi gembel. Dia akan aku didik jadi pemimpin dunia melebihi Soekarno, Napoleon Bonaparte, Hitler, Mahatma Gandhi, Mou Zhetung, Julieus Caesar, namrudz, bahkan Fir'aun sekali pun.
Ada apa, sayang? Capek? Kau capek.
MENGAMBIL BAYI DARI PANGKUAN MAYAT ISTRINYA.
Wah, wah matahariku akmu ahrus lebih hebat dari ayah.
MENYANYIKAN LAGU KEBANGSAAN.
Itu adalah lagu kebangkasaan negeri kita, anakku.
Lagu ini memacu sembangat hidup kita untuk  melukis masa depan.
Bagaimana, sayang? Oh… Justru. Sejak kecil dia harus kita didik jadi pahlawan. Bukankah karena kepahlawananku, kau  mencintaiku? Aduh, kok main cubit.Malu?Sama siapa? Di sina tinggal kita berdua, mereka taku menghadapi kenyataan. Kumasih ingat waktu sekolah dulu. Ya…
TERTAWA.
 
Kau yang begitu angkuh, merasa perempuan paling cantik, kuat memohon cinta padaku. Oh, Satria…aku mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Betulkan?memang.Kuakui aku tergila-gila padamu. Habis kamu menarik, seksi dan pintar. Badanku sempat kurus karena memikirkanmu. Di mataku perempuan itu cuma kamu. Tapi aku kan  hanya merayumu. Ternyata diam-diam kau lebih gila mencintai aku. Ah… geli. Sudah… auh…malu dilihat anak kita.
SEAKAN DIGELITIKI. SANGAT ROMANTIS.TERTAWA BAHAGIA.
Masa lalu seperti pelangi. Indah namun sulit digapai.
MELETAKKAN BAYI KE PANGKUAN ISTRINYA.
Kemesaan kita direstui waktu.
Kita berpacu menjadi orang berpengaruh di negeri ini.
Dengan satu tujuan, nama kita tercatat sebagai pahlawan. Kita berhasil.
Aku jadi penglima perang. Kau jadi menteri ekonomi.
Tinggal satu obsesi yang belum kita raih: Jadi orang nomor satu di negeri ini.
HENING SEJENAK
 
Tiba-tiba semuanya berubah.
Pesta penyambutan matahari  menjelma jadi neraka.Bertubi-tubi kita diserang musuh yang tidak berwujud.
Bertubi-tubi negeri ini jatuh bangun.
Aku tak kuasa menahan gempurannya.
Bukan…bukan karena aku lemah.Tapi dia curang.Dia menyerang tanpa memberi tanda.
Ini melanggar kode etik peperangan!
 
SUARA-SUARA KEMATIAN ITU MUNCUL KEMBALI. KINI SAMAR-SAMAR MAGIS MENGIRIS HATI.
 
Apalagi yang akan terjadi?
 
SUARA-SUARA KEMATIAN ITU MAKIN BERVARIASI.DERAS BERGELOMBANG.MENERJANG PENDENGARAN. MENCABIK-CABIK JIWA.LELAKI ITU MENGERANG, MENJERIT,MERONTA-RONTA.
 
Berhenti! Berhenti! Berhenti!!!
DUDUK BERSIMPUH MENAHAN SAKIT.
Kenapa kalian berkumpul di sini? apa yang terjadi?
Sssst…jangat berisik. Matahariku sedang tidur.
MENARIK NAFAS.
Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk melindungi kalian.
Aku tahu bapak presiden juga ada di sini, termasuk juga menteri-menteri, anggota DPR/MPR, para pakar dari berbagai bidang ilmu, para  hakim, tokoh-tokoh agama, para hakim, seniman-seniman dan para selebritis, dan juga pemimpin-pemimpin partai, serta  tokoh elit lainnya.
Tapi, rumahku sudah hancur . Tinggal hamparan tanah kosong yang masih kumiliki. Bagaimana? TERTAWA.;
Bukan…peristiwa tidak pernah terjadi secara tiba-tiba.
Hukum sebab akibat tetap berlaku dalam masalah ini.
Kita telah menuai hasil. Hutan kita bakar kemudian kita jadikan pabrik, real estate, hotel-hotel.Gunung yang diam kita usik untuk dijadikan lahan pertambangan. Laut yang begitu tulus kemudian kita obrak-abrik.Belum lagi kita yang keparat.Korupsi uang negara,membunuh para generasi muda yang kita anggap, membiarkan  rakyat kelaparan, menjadikan hukum sebagai mainan kelereng, menjual anak-anak perempuan ke luar negeri, membiarkan tempat perjudian dan pelacuran bergerak bebas, perang saudara dan masih banyak lagi ulah bangsat kita yang memancing huru-hara.
Alam juga punya jiwa.Alam juga akan memberontak ketika kita tidak bisa merasakan  gelisah hatinya. Ini hal biasa memang.
Tapi, ketika manusia sempurna  jadi mimpi buruknya, menjadi buldozer yang melenyapi tata kosmos keseimbangan ini justru luar biasa.
Oh, maaf bila saya tidak mampu mencegah semua ini.
Tapi, saya berjanji akan merebut segala milik kita yang dirampas olehnya. Ini adalah janji lelaki yang tidak pernah mati. Siapa pak? Istri dan anak saya? Oh…ya jelas mereka diam saja . Mereka kan sudah mati. Oh… tidak.
Saya tidak akan mengubur mereka . Mereka tidak akan membusuk.
Tubuh merekja telah saya lumuri dengan cinta.
HENING SEJENAK
Sekali lagi saya katakan, saya sudah tidak punya apa-apa untuk melindungi kalian. Oh… bukan.
Bukan begitu pak presiden. Saya tidak bermaksud mengusir kalian. Bapak kan bisa melihat kondisi tempat ini.
Saya bertahan di sini karena ada satu peperangan lagi yang harus diselesaikan. Kaki saya, segala milik saya yang hilang  akan saya rebut kembali. Termasuk kedhidupan istri dan anak . Yah… malam ini semua masalah akan selesai.
Pergilah. Saya tidak bisa bertanggung jawab atas nasib kalian.
BERSIMPUH.
Oh… jangan memohon begitu. Aku bukan  panglima perang lagi.
Aku tahu…Aku tahu… Negeri kita babak belur.
Rumah kita hancur. Aku tidak bisa mencegahnya.
Alat teknologi serta persenjataan kita tidak mampu mendeteksi kehadirannya.Dia datang tiba-tiba tak berwujud seperti hantu.
 
TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA MENGGELEGAR DARI LANGIT.
 
Apa? Tuhan marah? Hanya karena ucapanku tadi?
Lalau dimana Tuhan ketika rumah kita hancur dan orang-orang yang kita cintai hilang entah kemana?
Apa? Kita lupa bersyukur? Kita tidak bisa membaca tanda?
Apakah salah kalau kita memiliki jabatan yang tinggi dan harta berlimpah ruah?
Apakah salah kalau kita bepesta? Yah… Tapi, kita semua melakukannya.
Sedikit korupsi dan main bunuh. Itukan manusiawi.
Ah…omong kosong.
Yang jelas maut telah berbuat sewenang-wenang dan Tuhan mendiamkannya. Harus ada cara lain untuk menundukkan mau dan itu harus kulakukan malam ini.
TERTAWA. Kalian tidak setuju? TERTAWA.
Tanah ini dalam kondisi darurat. Jadi tidak ada instruksi.
Bergeraklah atas nama kesadaran. Bagaimana? Oh… recanaku?
Aku akan masuk ke alam maut.
TATAPANNYA TAJAM.
Maut. Takdirku yang telah kurampas akan kurebut kembali.
 
SUARA-SUARA KEMATIAN DARI KEJAUHAN. LELAKI  ITU MELAKUKAN  PROSESI MENUJU ALAM MAUT. GERBANG ALAM MAUT PUN TERBUKA.SUARA-SUARA KEMATIAN ITU PUN MAKIN TAJAM.
LELAKI ITU TIBA DI ALAM MAUT.
 
PELAHAN-LAHAN LELAKI ITU BERGERAK
 TANGAN KANAN
Puih…TERTAWA. Aku merdeka. Aku harus lari dari sini sebelum dimintai pertanggungjawaban. Ke arah mana yah?
Oh… yah ke arah siang.
 
TANGAN KIRI
Eit… tunggu dulu. Kau tidak bisa pergi tanpa aku.
Jangan buat keputusan sendiri. Aku mau kearah malam.
 
TANGAN KANAN
Sekarang kita pisah
 
TANGAN KIRI
Tidak bisa. Kita sudah ditakdirkan menyatu.
 
TANGAN KANAN
Kalau begitu harus patuh dengan keputusanku.
 
TANGAN KIRI
Tidak bisa itu di dunia. Sekarang kita punya hak yang sama.
 
TANGAN KANAN
Ssst… jangan keras-keras.Nanti ketahuan.
 
TANGAN KIRI
Jadi bagaimana? Di dunia aku jadi budak terus menerus tanpa bisa protes. Di sini aku juga harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang aku juga tidak suka.
 
TANGAN KANAN
Makanya kau ikut ke arah siang. Bebas.
 
TANGAN KIRI
Aku juga berhak menentukan arahku sendiri.
Aku juga sudah merdeka. Aku mau ke malam.
 
TANGAN KANAN
Ke siang.
 
TANGAN KIRI
Ke malam.
 
TANGAN KANAN
Siang!
 
TANGAN KIRI
Malam!
           
KEPALA
Diam! Di dunia ribut, di sini ribut. Apa tidak bosan  ribut terus. Aku butuh ketengan.
TANGAN KANAN
Di sini kita makin tidak bisa tenang. Sebentar  lagi  malaikat datang. Kemudian tanya datang. Kemudian  tanya  macam-macam. Kalau kita tidak bisa mempertanggungjawabakan yang kita lakukan di dunia, habis. Kita bakal babak belur. Jalam selamat cuma ke siang. Di sana kita  bisa jadi sinar.
 
TANGAN KIRI
Sinar mudah dilihat. Berbahaya. Yang paling aman cuma malam.
Di sana kita bisa jadi kegelapan.
 
KEPALA
TERTAWA.Tolol! Siang dan malam terikat waktu. Kalau kalian ke sana, mereka  pasti mengadu ke Tuhan.
Nih, tempat yang paling aman, kekosongan.
 
KAKI KIRI
Omong kosong! Segala sesuatu yang memiliki nama, pasti memiliki sifat dan bentuk serta terikat dengan ruang dan waktu.
Begitu juga dengan kekosoangan.
 
TANGAN KANAN
 Jadi apa yang harus kita lakukan?
 
KAKI KIRI
Lawan.
 
TANGAN KIRI
Siapa yang harus dilawan?
 
KAKI KIRI
Aku juga tidak tahu. Kita cari sama-sama.
 
KEPALA
Aku tahu. Maut.
 
KAKI KIRI
Maut?
 
TANGAN KIRI
Kita di sini  kan karena ulah maut.
 
KEPALA
Tidak.Aku baru ingat. Kita kemari punya misi. Membunuh maut.
 
TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA YANG BERGEMURUH.
KAKI,TANGAN DAN KEPALA SPONTAN BERJINGKRAKAN TAK TENTU ARAH.
 
KAKI KANAN
Tidak ada lagi tempat yang aman. Sebentar lagi malaikat datang meminta pertanggungjawaban dari setiap gerak kita  di dunia.Hanya ada satu cara untuk lepas dari masalah ini
 
SEMUA
Selamatkan  diri kalian masing-masing. Lari!!!!
 
TIBA-TIBA SUARA-SUARA KEMATIAN ITU KEMBALI LAGI.
KINI BERGELOMBANG,MENERJANG DAN MENCABIK-CABIK.
KAKI,TANGAN DAN KEPALA MERONTA-RONTA,MENGGELIAT-GELIAT,BERUSAHA MELEPASKAN DIRI DARI SUARA-SUARA KEMATIAN ITU.
NAMUN GAGAL.AKHIRNYA MEREKA TERSUNGKUR.
 
SUARA GAIB
Ambil hikmah dari setiap peristiwa.
Tuhan tidak pernah murka.
Bencana yang kalian alami adalah nasehat-NYA untuk mencerahkan peradaban masa depan.
Ingatlah, setiap nyawa yang terikat ruang dan waktu pasti akan merasakan mati.
Maut tidak terikat ruang dan waktu.
Yang kalian cintai belum tentu baik.Yang kalian benci belum tentu buruk. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang.
Kembalilah ke dunia  dengan jiwa yang bersih.
 
PINTU GERBANG DUNIA TERBUKA.SUARA-SUARA KEMATIAN LENYAP.
TINGGAL KEHENINGAN YANG MENCEKAM.LELAKI ITU MULAI BERGERAK.
TATAPANNYA KOSONG.DIA MELAKUKAN PROSESI FARDHU KIFAYAH DALAM KONDISI SEMI TRANCE.SUASANA EMOSINYA BERVARIASI.
ININYA DUKA.
 
Akh…sragh…tra…sia…bre…cyek…khwoa…cris…yea…pra…hya…kizzzsa…straefpa…qwotrsve…tyoqrrr…gsye…laily…yaikk…khuqa…zerissfph…akkre…gha…ngrko…crikkqo…pffszke…homngwa…qkhurtsa…bra…krerrtsa…lkkqswgha…bregzswy…trevcsj…kwyntsh…pqyrekstwiy…kronggsyahol…syaholqalyahu…qulyaallahiya…allyajh…allyehu…altyahu…allyahu…allyahe…allahu…ALLAH.

Maila
Medan, 10 Maret 2005








Monolog Ini yang saya tampilkan pada tanggal 26 Maret 2012 saat Festival Seni Mahasiswa di Pendopo Lama Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Walaupun belum menghasilkan juara., Tak apa setidaknya aku telah berani berjumpa dan tampil dihadapan mereka, orang-orang yang luar biasa.