Pernahkah kau
mendengar nyanyian lirih2 menyayat hati, jika pernah perasaan itu juga yang
menggambarkan raut muka penyesalan dari Ramoa... Ia marah dan entah mengapa ia
teramat marah tatkala melihat segerombolan pengamen jalanan menyanyikan lagu asing
yang entah apa judulnya.
“Cacian rindu
yang sangat menghina!” demikian kira-kira apabila dibahasakan dalam kata.
Ia berjalan
mendorong sepeda anginnya, tak ia tunggangi karena rantai yang kemarin baru
saja diperbaiki di bengkel Bang Pedo lepas lagi lagi dan lagi entah sudah
berapa kali untuk hari ini. Padahal mobilitasnya sangat tinggi. Hari ini
harusnya dia pergi ke gedung uang, taman pemerintahan, dan pergi ke rekan
kerjanya Bujang. Hah gara-gara ronsokan ini, semua rencana indah hari ini gagal
total. Padahal ia akan membicarakan masalah taman kota, roboisasi, juga tektek
bengek mengenai rehabilitasi lahan tambang bekas penjajah-penjajah ekonomi bangsa
kita kini.
Mereka yang
mengeruk habis kekayaan alam kita, mereka yang dengan sengaja membuat
lubang-lubang besar dan meninggalkannya begitu saja ketika emas-emas hitam
disana telah tiada, sementara masyarakat sekitarnya sama sekali tak pernah mencicipi
nikmatnya alam mereka, alam nenek moyang yang mati-matian mereka pertahankan
demi generasi setelahnya yang kini jujur saja telah sia-sia. Tinggal bencana,
ya menunggu terowongan-terowongan longsor atau menunggu banjir kiriman dari
desa tetangga, atau tidak mustahil bahan-bahan pencemar yang kini ibarat sudah
menyatu dengan air yang mereka gunakan untuk bersuci bahkan cairan yang menjadi
darah dan nanah dalam tubuhnya.
Walaupun jujur
nyanyian itu membuat ia membenci segalanya, membenci apa saja yang berasal dari
asing, namun satu rupiah uang yang tersisa di saku celananya tetap saja ia
berikan pada gerombolan pemuda yang memainkan okulele lengkap dengan dengan
instrumen tradisional khas zamannya.
“Kalian,
korban kebiadaban yanga tak pernah usai. Dan aku harus pergi untuk
menghentikannya.” Lirih Ramoa kepada gerombolan pemuda yang jelas membuat
tangan-tangan mahir mereka menghentikan segala nada-nada sumbang yang selama
ini menjadi untaian harapan penyambung kehidupan pemuda desa, pemuda yang jelas
sudah tak ada lagi harapan minimal dimata orang-orang yang menderita penyakit ‘pesimis
akut’. Tapi di celah mata sejarah tak ada yang mustahil adanya, segalanya pasti
bisa dirubah dengan usaha, keringat, dan air mata.
Ramoa lari
sambil mengepal tinju. Desanya masih 3 kilo dihadapan, sesegera mungkin sebelum
Ketua adat memutuskan hal yang bahkan bisa menyebabkan segalanya hanjur hanya
dengan satu goresan tinta. Ia berlari-berlari hingga terasa kakinya bagai kebas
tak menahan duri ataupun ranting kering dihadapannya. Satu kilo, setengah, ,
dan satu kilo lagi hingga ia merasa kejanggalan, gemuruh air yang besar.
Mengapa? Bukankan Sungai Kaipun masih jauh diujung kampung sana, tapi kenapa
begitu bergemuruh. Gelap tak terasa, gemuruh bersatu dengan malam yang semakin
pekat.
“Hentikan
lankahmu ramoa, air sudah tinggi segera kembali.” Mak Wayan.
Iya Mak Wayan,
memperingatkan untuk berbalik arah. Tapi apa yang sebenarnya terjadi pada tanah
airnya tercinta, kampung Sakarya, berputar haluan tetap takkan membantu.
Treagedi terbesar negeri ini ulah mereka para manusia tak bermata hati.
Cerpen untuk memperingati hari bumi, walaupun agak telatt., :)
0 komentar:
Posting Komentar