Sabtu, 09 Juni 2012

Lubang Hitam Peradaban


Pernahkah kau mendengar nyanyian lirih2 menyayat hati, jika pernah perasaan itu juga yang menggambarkan raut muka penyesalan dari Ramoa... Ia marah dan entah mengapa ia teramat marah tatkala melihat segerombolan pengamen jalanan menyanyikan lagu asing yang entah apa judulnya.
“Cacian rindu yang sangat menghina!” demikian kira-kira apabila dibahasakan dalam kata.
Ia berjalan mendorong sepeda anginnya, tak ia tunggangi karena rantai yang kemarin baru saja diperbaiki di bengkel Bang Pedo lepas lagi lagi dan lagi entah sudah berapa kali untuk hari ini. Padahal mobilitasnya sangat tinggi. Hari ini harusnya dia pergi ke gedung uang, taman pemerintahan, dan pergi ke rekan kerjanya Bujang. Hah gara-gara ronsokan ini, semua rencana indah hari ini gagal total. Padahal ia akan membicarakan masalah taman kota, roboisasi, juga tektek bengek mengenai rehabilitasi lahan tambang bekas penjajah-penjajah ekonomi bangsa kita kini.
Mereka yang mengeruk habis kekayaan alam kita, mereka yang dengan sengaja membuat lubang-lubang besar dan meninggalkannya begitu saja ketika emas-emas hitam disana telah tiada, sementara masyarakat sekitarnya sama sekali tak pernah mencicipi nikmatnya alam mereka, alam nenek moyang yang mati-matian mereka pertahankan demi generasi setelahnya yang kini jujur saja telah sia-sia. Tinggal bencana, ya menunggu terowongan-terowongan longsor atau menunggu banjir kiriman dari desa tetangga, atau tidak mustahil bahan-bahan pencemar yang kini ibarat sudah menyatu dengan air yang mereka gunakan untuk bersuci bahkan cairan yang menjadi darah dan nanah dalam tubuhnya.
Walaupun jujur nyanyian itu membuat ia membenci segalanya, membenci apa saja yang berasal dari asing, namun satu rupiah uang yang tersisa di saku celananya tetap saja ia berikan pada gerombolan pemuda yang memainkan okulele lengkap dengan dengan instrumen tradisional khas zamannya.
“Kalian, korban kebiadaban yanga tak pernah usai. Dan aku harus pergi untuk menghentikannya.” Lirih Ramoa kepada gerombolan pemuda yang jelas membuat tangan-tangan mahir mereka menghentikan segala nada-nada sumbang yang selama ini menjadi untaian harapan penyambung kehidupan pemuda desa, pemuda yang jelas sudah tak ada lagi harapan minimal dimata orang-orang yang menderita penyakit ‘pesimis akut’. Tapi di celah mata sejarah tak ada yang mustahil adanya, segalanya pasti bisa dirubah dengan usaha, keringat, dan air mata.
Ramoa lari sambil mengepal tinju. Desanya masih 3 kilo dihadapan, sesegera mungkin sebelum Ketua adat memutuskan hal yang bahkan bisa menyebabkan segalanya hanjur hanya dengan satu goresan tinta. Ia berlari-berlari hingga terasa kakinya bagai kebas tak menahan duri ataupun ranting kering dihadapannya. Satu kilo, setengah, , dan satu kilo lagi hingga ia merasa kejanggalan, gemuruh air yang besar. Mengapa? Bukankan Sungai Kaipun masih jauh diujung kampung sana, tapi kenapa begitu bergemuruh. Gelap tak terasa, gemuruh bersatu dengan malam yang semakin pekat.
“Hentikan lankahmu ramoa, air sudah tinggi segera kembali.” Mak Wayan.
Iya Mak Wayan, memperingatkan untuk berbalik arah. Tapi apa yang sebenarnya terjadi pada tanah airnya tercinta, kampung Sakarya, berputar haluan tetap takkan membantu. Treagedi terbesar negeri ini ulah mereka para manusia tak bermata hati.




Cerpen untuk memperingati hari bumi, walaupun agak telatt., :)

0 komentar:

Posting Komentar